Mengatasi Kejang Demam Pada Bayi

Selamat bergabung kembali di rasasakit.com. Pada kesempatan ini kami akan memeberikan informasi mengenai cara mengatasi kejang demam pada bayi dan balita. Yang akan saya bahas selengkap-lengkapnya hanya untuk anda.

Mengatasi Kejang Demam Pada Bayi

Mengatasi Kejang Demam Pada Bayi

Demam tinggi yang di sertai kejang pada anak sangat di hawatirkan oleh para orang tua ketika sang anak mengalami hal tersebut, terutama sang anak masih bayi. karena kondisi tersebut sering di hubung-hubungkan dengan epilepsi atau keterbelakangan mental sebagai efeknya. apakah itu benar atauhanya mitos?

Kejang pada saat demam merupakan kondisi yang diduga disebabkan karena adanya infeksi sehingga temperatur tubuhpun naik secara drastis dan ada respons husus dari otak terhadap demam yang biasanya terjadi pada hari pertama demam.

Bagaimana cara mengatasinya?

Jika anak mengalami kejang sangat di harapakan agar orang tua tidak panik. Kejang biasanya terjadi pada awal masa demam anak, sehingga jika ibu memberikan obat penurun panas pada anak seperti paracetamol atau ibuprofen pada anak, itu hanya akan menurunkan suhu tubuh pada anak agar tidak terlalu tinggi, namun tidak mencegah timbulnya kejang demam itu sendiri.

Hindarilah pemberian aspirin pada anak yang sedang mengalami kejang karena dapat beresiko menimbulakn reye’s syndrom pada anak yang dapat berujung pada kematian. Namun dokter biasanya meresepkan Obat diazepam, lorazepam, dan clonazepam untuk mengatasi kejang pada anak anda baik kejang demam maupun kejang kompleks.

Jika kejang demam pada Anak terjadi untuk yang kesekian kalinya dan anda belum berada di rumah sakit, anda bisa melakukan beberapa langkah di bawah ini :

  • Tetaplah berada di dekatnya untuk menenangkannya.
  • Longgarkan pakaiannya.
  • Pindahkan benda tajam di sekitarnya.
  • Jangan tahan gerakan kejang anak anda dan letakan ia di permukaan yang aman seperti di permukaan lantai yang sudah di alasi dengan karpet.
  • Jangan taruh obat apapun di dalam mulutnya ketika ia kejang.
  • Ambilah sesuatu yang ada di dalam mulutnya ketika ia kejang untuk menghindari tersedak.
  • Hitung durasi kejangnya, apabila sudah melebihi sepuluh menit segeralah panggil ambulance atau larikan ke instalasi gawat darurat (IGD).
  • Jika ia muntah, maka letakkan ia menyamping, bukan terlentang dengan salah satu lengan berada di bawah kepala yang juga di tengokan ke salah satu sisi. Hal tersebut dapat menghindarkan ia menelan muntahannya sendiri.

Jika di bawa ke dokter, dokter kan mendiagnosis penyebabanya dengan beberapa pemeriksaan, dintaranya : tes urine, tes darah, atau pemeriksaan cairan tulang belakang  agar mengetahui apakah terjadi infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis.

Jika buah hati anda mengalami kejang kompleks, dokter juga bisa menyarankan electroencephalogram (EEP) atau tes untuk mengukur aktivitas otak. Pemeriksaan MRI juga akan di rekomendasikan oleh dokter, jika anak anda mengalami kejang pada salah satu bagian tubuh seperi di perut. Halitu bertujuan untuk memeriksa otak anak anda. Dan apabila kejang anak anda di iringi dengan infeksi serius, bahkan sumber infeksi belum di ketahui, mungkin dokter akan meminta anak anda agar beristirahat di rumah sakit selama beberapa hari.

Secara umum kejang pada anak sering mengalami kondisi sebagai berikut.

  • Demam tinggi.
  • Tangan dan kakinya kejang.
  • terkadang mengeluarkan buda atau muntah dri mulutnya.
  • Bayi tau balita mengalami hilang kesedaran.
  • selalu berkeringat.
  • Matanya terkadang juaga akan terbalik.
  • Setelah¬† kejang reda, dia kan terlihat mengantuk dan tertidur.

Jenis kejang demam pada bayi dan balita

Gejala-gejala kejang demam berbeda pada setiap anak, mulai dari ringan seperti menatap dengan melotot, hingga berat seperi tubuh bergetar hebat ataupun otot-otot menjadi kencang dan kaku.  Berdasarkan durasinya, kejang demam pada anak di kategorikan sebagai berikut :

  • Kejang demam sederhana. Ini merupakan jenis kejang demam yang sering terjadi, dengan durasikejang beberapa detik hingga kurang dari 15 menit. ejang terjadi pada seluruh tubuh dan tidak akan terulang dalam kurun waktu 24 jam.
  • Kejang demam kompleks. Anak yang terserang kejang ini biasanya mengalami kejang dengan durasi lebih dari 15 menit dan terjadi pada slsh satu bagian tubuh dan dapat terulang kembali dalam kurun waktu 24 jam.

Kejang demam ini biasanya di alami oleh bayi yang sudah berusia di atas 6 bulan hingga anak umur 5 tahun. Dan pada beberapa kasus, kejang demam sangat jarang terjadi pada bayi yang berusia di bawah 6 bulan ataupun balita berumur 3 tahun.

Hingga saat ini penyebab secara pasti terjadinya kejeng demam belum di ketahui secara pasti, namun pada sebahagian banyak kasus, kejeng demam sangat berhubungan erat dengan dengan demam tinggi akibat infeksi virus flu, infeksi telinga, cacar air dan tonsilitis atau radang amandel.

Selain itu, kejang demam pada anak juga sering terjadi pascaimunisasi, namun buka karena vaksinnya yang menyebabkan kejeng demam pada anak, melainkan demam tinggi yang di almi oleh sang anak. Faktor genetika juga meningkatkan kecenderungn anak mengalami kejang demam. Ini terbukti satu dari empat orang anak mengalami kejeng demam kompleks memiliki riwayat aggota keluarga yang mengalami hal yang serupa.

Kejang demam juga dapat terulang,jika :

  • Kejang demam pertama terjadi pada saat usia anak di bawah satu tahun.
  • Terdapat anggota keluarga kandung yang memiliki riwayat kejeng demam.
  • Anak menegalamikejang padahal suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi.
  • Jarak waktu anak mulai demam dankejangnya bgitu singkat.

Apakah kejang demam berbahaya?

Banyak orang berasumsi bahwa kejang demam kompleks sering di kaitkan erat dengan meningkatnya resiko epilepsi juga dengan kematian mendadak yang tidak terjelaskan pada anak. Namun semuanya itu terbantahkan, karena faktanya sebahagian besar kasus kejang demam pada anak tidak meningkatkan resiko kematian di masa anak-anak maupun dewasa.

Pada sebahagian besar kasus kejang demam juga tidak memiliki dampak panjang bahkan anak dapat pulih seperti semula setelah mengalami kejang demam. Kejang demam sederhana juga tidak akan menyebabkan keruksakan otak, kesulitan belajar, ataupun ganguan mental. Selain itu juga, kejang demam jaga tidak mengakibatkan penyakit epilepsi atau kecenderungan kejang berulang akibat sinyal elektrik abnormal pada otak.

Alangkah baiknya jika anda langsung membawa si kecil ke dokter apabila si kecil mengalami kejang demam walaupaun hanya dalam beberapa detik. Atau larikan ia secepat mungkin ke IGD apabila kejang demamnya di sertai dengan sesaka napas, leher kaku, muntah dan sangat mengantuk. Terutama jika anda menduga ini bukan sekedar gejala kejang demam. Karena ada pula kejang yang bisa jadi menjadi tanda penyakit yang lebih serius seperti meningitis.

 

Mengatasi Kejang Demam Pada Bayi | Nida Saripa | 4.5